Diposting oleh:

Luar Biasa, Lulusan IAIT Kini Menjadi Rektor Institut

staitasik.ac.id – Siapa yang tidak kenal dengan jabatan rektor? Jabatan tertinggi yang ada di sebuah lembaga universitas atau institut.

Meski beliau sekarang menjadi sosok paling berpengaruh di kampus, ternyata perjuangan beliau dalam mendapatkan jabatan rektornya sangat inspiratif.

Dr. Abdul Haris, M.Pd, nama beliau mungkin tidak asing lagi bagi para pembaca dan aktivis di dunia pendidikan. Rektor IAIT masa khidmat 2022-2026 yang kiprahnya dalam dunia pendidikan sudah sangat dikenal oleh masyarakat.

Dengan gaya kepemimpinannya yang khas dan kharismatik beliau mampu membawa banyak perubahan di kampus STAI, hingga akhirnya beralih bentuk menjadi Institut. Beliau pun berhasil mewujudkan mimpi-mimpi para pendiri STAI Tasikmalaya sebelumnya yang berkeinginan merubah STAI menjadi Universitas.

Tetapi siapa sangka, ternyata beliau merupakan alumni dari kampus IAIT sendiri.

Beliau lahir dan tumbuh di Jatiwaras Salopa. Mengenyam pendidikan di SLTP dan SLTA Ponpes Nurul Huda Mandalawangi Salopa, lalu melanjutkan kesantriannya di pesantren Condong.

Walaupun lahir dari keluarga petani dan pedagang tetapi tidak membuat mimpinya goyah untuk tetap berkontribusi memajukan dunia pendidikan.

Berawal dari ajakan kawan-kawannya untuk mengikuti kuliah semasa di pondok, beliau akhirnya termotivasi dan mencoba mengikuti perkuliahan di IAIT yang pada saat itu namanya masih STIT (Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah).

Keputusannya dalam mengenyam pendidikan di STIT ternyata tidak seburuk yang dipikirkan, meskipun awalnya sempat ragu karena tidak memiliki biaya untuk kuliah.

Beliau pun lulus di STIT pada tahun 1995 yang pada saat itu STIT masih banyak kelonggaran dalam pembiayaan kuliah. Jadi, memudahkan beliau untuk bisa melanjutkan bangku kuliahnya hingga lulus.

Setelah lulus, kawan-kawannya melanjutkan kuliah kembali untuk mendapat gelar pasca sarjana. Karena melihat banyak kawannya yang kembali melanjutkan kuliah, beliau pun akhirnya tertarik untuk kembali mengenyam pendidikan.

Bermodal nekat, ia mendaftarkan diri menjadi mahasiswa Universtas Pendidikan Indonesia (UPI Bandung) yang malah menuntunnya lebih jauh hingga akhirnya lulus.

Di masa-masa awal kuliah, beliau sempat kebingungan perihal biaya, apalagi pembiayaan kuliah di UPI tidak selonggar STIT. Ditambah sebagian orang tidak begitu percaya bahwa beliau bisa melanjutkan kuliah s2 dengan keadaannya pada saat itu. Tetapi hal itu tidak menyulutkan semangat beliau dalam mengenyam pendidikan.

Masa-masa inilah yang memaksa beliau mesti berpikir keras agar bisa seperti orang lain walaupun tidak memiliki apa-apa.

Berbekal dari organsasi ia pun sempat mengajukan proposal kesana kemari untuk mendapatkan beasiswa. Meminta bantuan kepada para senior agar bisa melanjutkan kuliah s2 hingga akhirnya membuahkan hasil.

Setelah lulus S2 di UPI Bandung, ia pun melanjutkan kuliah S3 di UNJ hingga berhasil mendapat gelar doktor.

Semasa kuliah beliau selalu aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi. Dan berawal dari keaktifannya itulah beliau mampu mengejar mimpi-mimpinya satu persatu.

Kebanyakan senior-senior beliau pun tidak memiliki apa-apa tetapi mampu berhasil dan sukses dengan caranya masing-masing.

Beliau pun akhirnya paham, bahwa kunci terpenting untuk sukses adalah memiliki keinginan kuat untuk mewujudkannya. Tuturnya sambil menutup pembicaraan di podcast STAINU beberapa waktu yang lalu.